40 Hadits Tentang Pendidikan Anak (Hadits 21)
CATATAN KAJIAN PARENTING
Sabtu, 10 Oktober 2026
Masjid Ash-Shiddiq, Kebon Gedang
Pemateri: Ustadz Ahmad Tonarih Al-Atsary hafizhahullah
Pembaca Hadits: Ustadz Ade Sukma Setiawan
Mengedepankan Anak yang Memiliki Hafalan Al-Qur’an dalam Menjadi Imam serta Memberikan Dukungan kepada Mereka
عَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كُنَّا بِمَاءٍ مَمَرَّ النَّاسِ، وَكَانَ يَمُرُّ بِنَا الرُّكْبَانُ، فَنَسْأَلُهُمْ: مَا لِلنَّاسِ؟ مَا لِلنَّاسِ؟ مَا هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُولُونَ: يَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَهُ، أَوْحَى إِلَيْهِ، أَوْ أَوْحَى اللَّهُ بِكَذَا، فَكُنْتُ أَحْفَظُ ذَلِكَ الْكَلَامَ، وَكَأَنَّمَا يُقَرُّ فِي صَدْرِي، وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَلَوَّمُ بِإِسْلَامِهِمُ الْفَتْحَ، فَيَقُولُونَ: اتْرُكُوهُ وَقَوْمَهُ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِمْ فَهُوَ نَبِيٌّ صَادِقٌ
فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَدَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ، وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا، فَقَالَ: صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا، وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا
فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ، فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ، وَكَانَتْ عَلَيَّ بُرْدَةٌ، كُنْتُ إِذَا سَجَدْتُ تَقَلَّصَتْ عَنِّي، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الْحَيِّ: أَلَا تُغَطُّوا عَنَّا اسْتَ قَارِئِكُمْ، فَاشْتَرَوْا فَقَطَعُوا لِي قَمِيصًا، فَمَا فَرِحْتُ بِشَيْءٍ فَرَحِي بِذَلِكَ الْقَمِيصِ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (٤٣٠٢)
Dari ‘Amr bin Salamah Radhiyallâhu ‘anhuma bercerita:
“Kami pernah berada di sebuah mata air tempat berlalu-lalangnya manusia. Pernah suatu ketika ada para pengendara yang melewati kami, maka kami menanyai mereka; ‘Apa yang terjadi pada orang-orang, dan bagaimana kabar sebenarnya tentang si laki-laki itu (maksudnya Muhammad)?’
Mereka jawab; ‘Ia (Muhammad) telah mengaku bahwa Allah telah mengutusnya dan memberi wahyu kepadanya serta Allah memberinya wahyu untuk begini dan begitu’.
Aku saat itu begitu hafal terhadap pembicaraan itu, seakan-akan pembicaraan itu menetap dalam hatiku.
Orang-orang Arab menanti keislaman mereka karena (berita tentang) penaklukkan (Fath). Lantas mereka berkata: ‘Tinggalkan dia (Muhammad) dan kaumnya, jikalau dia dimenangkan atas kaumnya, berarti dia memang benar Nabi ﷺ yang jujur.’
Ketika pasukan penakluk (Fath) singgah, maka setiap kaum bergegas menyambut dengan keislaman mereka, dan ayahku (Abu Salamah Radhiyallâhu ‘anhu) pun juga bergegas menemui kaumku dengan keislaman mereka.
Ketika ayahku datang, dia berkata: ‘Demi Allah, sungguh aku datang kepada kalian dari sisi Nabi ﷺ dan beliau berpesan:
Sholatlah kalian ini di waktu ini. Jika waktu sholat datang, hendaklah ada salah seorang dari kalian yang mengumandangkan adzan, dan yang mengimami kalian yang paling banyak hafalan al-Qurannya.’
Lantas mereka saling memandang, dan tak ada seorang pun yang lebih banyak hafalan al-Qur’annya selain diriku, karena aku pernah bertemu dengan para pengendara (Muslim).
Lantas mereka menyuruhku memimpin shalat di depan mereka, padahal umurku ketika itu baru enam atau tujuh tahun. Saat itu aku memakai burdah (kain kecil) yang apabila aku bersujud, kain itu tersingkap dariku.
Maka salah seorang wanita desa memberikan saran; ‘Tidakkah sebaiknya kalian menutupi bagian belakang para qori’ (penghafal al-Qur’an) kalian?’
Maka mereka langsung membeli dan memotong gamis untukku, sehingga tak ada yang menandingi kegembiraanku daripada kegembiraanku terhadap gamis itu.”
[HR. Bukhari No. 4302]
A. Faidah Hadits Ke-21
- Mendahulukan orang yang paling berhak menjadi imam shalat. Di antara kriteria yang didahulukan adalah orang yang paling baik bacaan dan penguasaan Al-Qur’annya. Apabila setara, didahulukan yang lebih mengetahui Sunnah, kemudian yang lebih dahulu berhijrah, lalu yang lebih dahulu masuk Islam. Dalam riwayat lain disebutkan pula pertimbangan usia yang lebih tua. Anak yang telah mumayyiz juga dapat menjadi imam menurut pendapat ulama yang membolehkannya, dengan tetap memperhatikan syarat dan ketentuan shalat.
- Mendorong anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an. Orang tua dan pendidik hendaknya menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an sejak dini, membimbing mereka untuk membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya.
- Memberikan hak-hak anak sebagaimana yang telah ditetapkan syariat. Usia yang masih muda tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hak anak, termasuk hak mendapatkan pendidikan, bimbingan, perhatian, dan penghargaan yang layak.
- Al-Qur’an menjadi sebab kemuliaan seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” [HR. Muslim no. 817]
- Tidak meremehkan kemampuan anak karena usianya yang masih muda. Di antara metode pendidikan yang baik adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
- Memberikan dukungan secara materi kepada anak didik. Dukungan tidak selalu berupa nasihat atau motivasi, tetapi juga dapat berupa bantuan yang mereka butuhkan. Sebagaimana dalam kisah ‘Amr bin Salamah, kaumnya membelikan kain dan membuatkan pakaian yang layak untuknya.
- Usia tidak selalu menentukan tingkat keilmuan seseorang. Terkadang seorang anak memiliki hafalan Al-Qur’an atau penguasaan ilmu tertentu yang lebih baik dibandingkan orang yang lebih dewasa.
- Mengenali keistimewaan dan potensi setiap anak. Pendidik hendaknya memperhatikan kemampuan, kecenderungan, dan kelebihan yang Allah karuniakan kepada anak didiknya, kemudian membantu mengembangkan potensi tersebut.
- Melatih keberanian dan kepercayaan diri anak. Anak yang telah memiliki kemampuan dan memenuhi persyaratan hendaknya diberi kesempatan untuk tampil serta mempraktikkan ilmunya, termasuk di hadapan orang banyak.
- Memuliakan dan memberikan dukungan kepada para penghafal Al-Qur’an. Orang tua dan pendidik hendaknya memberikan perhatian, motivasi, dan penghargaan kepada anak-anak yang bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an.
- Memberikan penghargaan (reward) sebagai sarana pendidikan. Penghargaan yang diberikan secara tepat dapat menghadirkan kebahagiaan dalam diri anak serta menambah semangat mereka untuk belajar dan berusaha.
- Menutup aurat merupakan salah satu syarat sah shalat. Karena itu, anak-anak perlu diajarkan cara berpakaian yang benar ketika melaksanakan shalat.
- Memahami hukum aurat yang tersingkap ketika shalat. Apabila aurat tersingkap tanpa sengaja, terdapat rincian hukum berdasarkan keadaan dan lamanya aurat terbuka. Di antara keadaan yang dimaafkan menurut para ulama adalah ketika aurat tersingkap tanpa sengaja lalu segera ditutup kembali.
B. Pembahasan Hadits Ke-21
Kisah ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu
Hadits ke-21 mengisahkan seorang sahabat yang masih berusia sangat muda, yaitu ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu, yang dipercaya menjadi imam shalat bagi kaumnya karena memiliki hafalan Al-Qur’an yang lebih banyak dibandingkan mereka.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari Abu Qilabah yang menerima kisah tersebut langsung dari ‘Amr bin Salamah.
Pada masa itu, sumber air merupakan tempat yang banyak didatangi manusia. Para musafir dan rombongan yang melakukan perjalanan sering singgah untuk memenuhi kebutuhan air. Perkampungan ‘Amr bin Salamah berada di salah satu jalur yang dilalui para musafir tersebut.
Dari para musafir itulah ‘Amr bin Salamah dan kaumnya mendengar berita tentang diutusnya Rasulullah ﷺ, turunnya wahyu, serta ajaran Islam yang mulai tersebar di tengah masyarakat.
Setiap kali para musafir menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an, ‘Amr bin Salamah berusaha menghafalnya. Karena sering mendengar dan menghafalkan ayat-ayat tersebut, hafalannya pun semakin bertambah.
Hal ini menunjukkan bahwa semangat mempelajari Al-Qur’an dapat tumbuh sejak usia dini apabila anak mendapatkan kesempatan dan lingkungan yang mendukung.
Kabar Kenabian Rasulullah ﷺ dan Kewajiban Beriman kepada Beliau
Diutusnya Rasulullah ﷺ merupakan peristiwa besar yang menjadi perhatian masyarakat Arab ketika itu.
Sebagian kabilah menunggu perkembangan dakwah beliau hingga terjadinya Fathu Makkah. Setelah Allah memberikan kemenangan kepada Rasulullah ﷺ, banyak kabilah Arab bersegera memeluk Islam.
Peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ tidak terbatas pada suatu kaum saja, melainkan ditujukan kepada seluruh manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentang diriku, kemudian meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim no. 153]
Hadits ini menunjukkan kewajiban beriman kepada Rasulullah ﷺ setelah risalah beliau sampai kepada seseorang.
Adapun keadaan orang yang belum sampai kepadanya dakwah dengan benar memiliki pembahasan tersendiri dalam ilmu akidah.
Mendahulukan Orang yang Lebih Menguasai Al-Qur’an untuk Menjadi Imam
Setelah ayah ‘Amr bin Salamah kembali dari menemui Rasulullah ﷺ, beliau menyampaikan petunjuk tentang pelaksanaan shalat berjamaah.
Di antara pesan Rasulullah ﷺ adalah:
وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا
“Hendaklah yang menjadi imam kalian adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya di antara kalian.” [HR. Al-Bukhari no. 4302]
Ketika kaumnya mencari orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya, ternyata tidak ada seorang pun yang memiliki hafalan lebih banyak daripada ‘Amr bin Salamah.
Akhirnya, beliau ditunjuk menjadi imam shalat, padahal ketika itu usianya baru sekitar enam atau tujuh tahun.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa seseorang dapat memperoleh kedudukan dan tanggung jawab karena ilmu serta kemampuannya, bukan semata-mata karena usia.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ
“Yang menjadi imam suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al-Qur’annya. Apabila mereka sama dalam bacaan, maka yang paling mengetahui Sunnah.” [HR. Muslim no. 673]
Dalam lanjutan hadits disebutkan kriteria lain, seperti yang lebih dahulu berhijrah dan lebih dahulu masuk Islam. Terdapat pula riwayat yang menyebutkan usia yang lebih tua.
Pelajaran pentingnya:
- Kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur berdasarkan usia.
- Bacaan Al-Qur’an yang benar dan pengetahuan tentang hukum shalat merupakan hal penting bagi seorang imam.
- Anak yang memiliki kemampuan hendaknya diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai ketentuan syariat.
- Ketika beribadah, kita hendaknya berusaha memberikan yang terbaik kepada Allah Ta’ala.
Catatan fikih:
Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan anak yang belum baligh menjadi imam shalat wajib bagi orang dewasa. Sebagian membolehkan berdasarkan kisah ‘Amr bin Salamah, sedangkan sebagian lainnya tidak membolehkan. Karena itu, permasalahan ini perlu dipahami dengan memperhatikan penjelasan para ulama.
Anak Memiliki Hak yang Dijamin oleh Syariat
Anak-anak mempunyai hak yang wajib diperhatikan oleh orang tua dan pendidik.
Di antaranya adalah mendapatkan pendidikan agama, bimbingan, kasih sayang, perhatian, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan besarnya tanggung jawab orang tua dalam membimbing keluarganya agar senantiasa berada di atas ketaatan kepada Allah.
Selain memperhatikan pendidikan agama, orang tua dan pendidik juga hendaknya membiasakan anak untuk belajar dengan baik, termasuk membaca dan menulis menggunakan kaidah bahasa serta ejaan yang benar.
Hal tersebut merupakan bagian dari pembiasaan ketelitian dalam menuntut ilmu dan menyampaikannya kepada orang lain.
Al-Qur’an Menjadi Sebab Diangkatnya Derajat Seseorang
Memiliki perhatian terhadap Al-Qur’an merupakan karunia yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” [HR. Muslim no. 817]
Hadits ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an dan keutamaan orang-orang yang menjadikannya sebagai petunjuk kehidupan.
Oleh karena itu, menghafal Al-Qur’an hendaknya tidak dipisahkan dari usaha memahami dan mengamalkan kandungannya.
Betapa besar nikmat Allah ketika sebuah keluarga memiliki perhatian terhadap Al-Qur’an. Anak-anak dibiasakan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an merupakan petunjuk yang dapat menghidupkan hati dan membimbing manusia menuju kebaikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5027)
Hadits ini menjadi motivasi bagi orang tua dan pendidik agar senantiasa menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an.
Allah Telah Memudahkan Al-Qur’an untuk Dipelajari
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” [QS. Al-Qamar: 17]
Ayat ini diulang sebanyak empat kali dalam Surah Al-Qamar, yaitu pada ayat 17, 22, 32, dan 40.
Pengulangan tersebut memberikan penekanan bahwa Allah telah memudahkan Al-Qur’an untuk diambil pelajaran darinya.
Karena itu, orang tua tidak perlu merasa pesimis terhadap kemampuan anak-anaknya dalam mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
Hendaknya anak dibimbing sesuai tahap perkembangan dan kemampuannya, dengan metode yang baik, penuh kesabaran, dan dilakukan secara berkesinambungan.
Namun, hal ini bukan berarti menghilangkan hak anak untuk bermain, beristirahat, dan menjalani proses pertumbuhan secara seimbang.
Kemudahan yang Allah berikan hendaknya menjadi motivasi untuk terus berusaha, bukan alasan untuk meninggalkan kesungguhan dalam belajar.
Jangan Meremehkan Kemampuan Anak karena Usianya
Di antara metode pendidikan yang benar adalah tidak meremehkan kemampuan anak hanya karena usianya masih muda.
Kisah ‘Amr bin Salamah menjadi contoh nyata bahwa seorang anak dapat memiliki keunggulan dalam hafalan Al-Qur’an dibandingkan orang-orang yang lebih dewasa.
Dalam sejarah Islam, para ulama besar seperti Imam Al-Bukhari rahimahullah juga telah menunjukkan kecintaan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu sejak usia muda.
Karena itu, hendaknya orang tua dan pendidik tidak mudah meremehkan kemampuan anak.
Label generasi, seperti Gen Z atau Generasi Alpha, juga tidak semestinya dijadikan alasan untuk melemahkan semangat anak dalam mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
Dengan pertolongan Allah, bimbingan yang baik, serta kesungguhan dalam belajar, seorang anak dapat memiliki kemampuan yang luar biasa.
Pentingnya Lingkungan yang Mencintai Al-Qur’an
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu, agama, dan akhlak anak.
Anak yang tumbuh di lingkungan yang mencintai Al-Qur’an akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk membaca, menghafal, dan melakukan muraja’ah atau mengulang hafalannya.
Oleh karena itu, orang tua hendaknya berusaha memilihkan lingkungan pendidikan yang baik, memiliki perhatian terhadap Al-Qur’an, serta membiasakan anak untuk mencintai ilmu agama.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup tungku pandai besi.” [HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628]
Hadits ini menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan dapat memberikan pengaruh baik ataupun buruk terhadap seseorang.
Karena itu, menghadirkan lingkungan yang baik merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam menjaga agama dan keshalihan anak-anak.
Pentingnya Meluruskan Niat dalam Mendidik dan Menuntut Ilmu
Setiap amal hendaknya dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta’ala. Demikian pula dalam mendidik anak dan mempelajari Al-Qur’an. Tujuan utama pendidikan bukanlah sekadar mendapatkan penghargaan, pengakuan manusia, atau kedudukan di tengah masyarakat, melainkan mengharapkan keridhaan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” [HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]
Orang tua dan pendidik hendaknya menanamkan kepada anak bahwa setiap kemampuan dan keberhasilan merupakan karunia dari Allah Ta’ala.
Dengan demikian, anak akan terbiasa bersyukur atas keberhasilannya dan tidak mudah merasa sombong terhadap kemampuan yang dimilikinya.
Mengenali dan Mengembangkan Potensi Anak Didik
Seorang murabbi atau pendidik hendaknya berusaha mengenali potensi yang Allah karuniakan kepada setiap anak didiknya.
Setiap anak memiliki kemampuan dan keistimewaan yang dapat berbeda satu sama lain. Ada anak yang menonjol dalam hafalan, pemahaman, kemampuan berbicara, menulis, maupun keterampilan lainnya.
Tugas pendidik adalah membimbing dan mengembangkan potensi tersebut agar dapat digunakan dalam kebaikan.
Dalam kisah ‘Amr bin Salamah, kaumnya mengetahui bahwa beliau memiliki hafalan Al-Qur’an yang lebih banyak. Karena itu, mereka memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi imam.
Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa seorang pendidik hendaknya tidak menyembunyikan atau meremehkan kemampuan anak yang memang layak ditampilkan.
Sebaliknya, anak perlu diberi kesempatan untuk melatih kemampuan, keberanian, dan tanggung jawabnya sesuai dengan kesiapan masing-masing.
Pentingnya Memberikan Motivasi dan Penghargaan kepada Anak
Memberikan motivasi merupakan salah satu bagian penting dalam pendidikan.
Ketika anak berhasil melakukan suatu kebaikan, hendaknya orang tua dan pendidik mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan karunia Allah. Dengan demikian, anak belajar bersyukur dan tidak merasa sombong.
Adapun ketika anak mengalami kegagalan, hendaknya ia dibimbing agar tidak mudah menyerah. Kegagalan dapat dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki usaha dan belajar dengan lebih baik.
Pendidik juga dapat memberikan penghargaan atau reward yang sesuai sebagai bentuk apresiasi atas kesungguhan dan usaha anak. Sebagaimana dalam kisah ‘Amr bin Salamah, ketika pakaiannya belum memadai untuk shalat, kaumnya membelikan kain dan membuatkan pakaian untuknya.
‘Amr bin Salamah pun menceritakan betapa bahagianya beliau ketika mendapatkan pakaian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sederhana dapat memberikan kebahagiaan yang besar bagi anak.
Namun, penghargaan hendaknya diberikan secara bijaksana agar anak tetap terbiasa melakukan kebaikan dengan niat yang ikhlas karena Allah.
Mengajarkan Anak untuk Menutup Aurat dengan Benar
Di antara pelajaran lain dari kisah ‘Amr bin Salamah adalah pentingnya memperhatikan pakaian ketika melaksanakan shalat.
Ketika beliau menjadi imam, pakaian yang dikenakannya terlalu pendek sehingga tersingkap saat melakukan sujud.
Seorang perempuan dari kaumnya kemudian mengingatkan agar aurat imam mereka ditutup dengan baik.
Mendengar hal tersebut, kaumnya membelikan kain dan membuatkan pakaian yang lebih layak untuk ‘Amr bin Salamah.
Kisah ini mengajarkan pentingnya membimbing anak agar memahami adab dan ketentuan berpakaian dalam shalat.
Menutup aurat merupakan salah satu syarat sah shalat menurut mayoritas ulama. Oleh karena itu, orang tua dan pendidik hendaknya mengajarkan ketentuan aurat kepada anak sesuai usia dan kemampuan pemahamannya.
C. Kesimpulan Kajian
Kisah ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu memberikan banyak pelajaran berharga tentang pendidikan anak, khususnya dalam menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Anak-anak hendaknya diberikan kesempatan untuk mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an sejak dini. Orang tua dan pendidik juga perlu mengenali kelebihan mereka, memberikan dukungan, serta tidak meremehkan kemampuan anak hanya karena usianya masih muda.
Selain itu, lingkungan yang baik, motivasi yang tepat, dan keteladanan pendidik memiliki peranan penting dalam membentuk pribadi anak yang berilmu dan berakhlak mulia.
Jangan hanya berharap anak-anak kita menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi bimbinglah mereka agar mencintai, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupannya.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita dalam mendidik anak-anak menjadi generasi yang bertauhid, mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah, berilmu, serta beramal shalih.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Rujukan Utama:
- Shahih Al-Bukhari no. 4302 — Kisah ‘Amr bin Salamah.
- Shahih Muslim no. 673 — Orang yang paling berhak menjadi imam.
- Shahih Muslim no. 817 — Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an.
- Shahih Muslim no. 153 — Kewajiban beriman kepada Rasulullah ﷺ.
- Shahih Al-Bukhari no. 5027 — Keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an.
- Shahih Al-Bukhari no. 5534 dan Shahih Muslim no. 2628 — Perumpamaan teman yang baik dan buruk.
- Shahih Muslim no. 2408 — Berpegang teguh kepada Kitab Allah.
- Shahih Al-Bukhari no. 1 dan Shahih Muslim no. 1907 — Pentingnya niat.
- Al-Qur’an Surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40.
- Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6.
*****
Penulis Resume: Annisa Phalupi
Murajaah: Ustadz Ahmad Tonarih
Editor: Tim Dakwah YIMB



