Mendidik dengan Ilmu, Membimbing dengan Teladan
Bismillah,
Catatan Kajian Parenting
Ustadz Dadan Hidayatullah Hafidzahullah
Sabtu, 12 September 2026
Masjid Ash-Shiddiq, Kebon Gedang.
Tarbiyatul Aulad:
“Mendidik dengan Ilmu, Membimbing dengan Teladan”
Anak adalah Nikmat dan Karunia Allah
Anak merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, kehadiran anak wajib disyukuri dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Beberapa bentuk kemuliaan anak dalam Al-Qur’an:
Anak adalah perhiasan kehidupan dunia
Allah Ta ‘ala berfirman:
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ٤٦
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” [QS. Al-Kahfi: 46]
Anak adalah penyejuk mata bagi orang-orang yang beriman
Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا ١٢ وَبَنِينَ شُهُودًا ١٣ وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا ٤
“Dan Aku berikan baginya kekayaan yang melimpah, dan anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku berikan baginya kelapangan (hidup) seluas-luasnya.” [QS. Al-Mudatsir: 12 – 14]
Allah menyebutkan di antara nikmat yang diberikan kepada seseorang adalah: harta yang melimpah, anak-anak yang selalu bersama, serta kehidupan yang lapang. Berkumpul bersama anak merupakan salah satu nikmat yang patut disyukuri.
Ketika Harus Berpisah dengan Anak
Perpisahan itu berat. Berpisah dengan anak, misalnya ketika memasukkan mereka ke pesantren, tentu terasa berat. Namun apabila perpisahan itu dilakukan karena Allah dan demi cita-cita akhirat, maka Allah menjanjikan ganti yang lebih baik.
Urgensi Parenting
Meremehkan pendidikan anak (misal ketidakhadiran orang tua dalam kegiatan parenting) merupakan tanda kurangnya perhatian terhadap amanah yang Allah berikan. Maka ini adalah tanda bahwa ia tidak perhatian kepada anaknya.
Perhatian orang tua bukan hanya sebatas:
- memberikan makanan,
- pakaian,
- tempat tinggal,
- dan kebutuhan materi lainnya.
Karena semua itu telah Allah jamin sebagai rezeki.
Namun pendidikan agama bukan sesuatu yang dijamin oleh Allah. Orang tualah yang berkewajiban mengusahakan agar anak mengenal Allah, mengenal agamanya, dan tumbuh di atas jalan yang benar.
Anak adalah Fitnah (Ujian)
Allah Ta’ala berfirman bahwa:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ١٥
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” [QS. At-Taghabun: 15]
Makna fitnah di sini adalah ujian yang dapat mengangkat ataupun menjatuhkan seseorang.
Di antara bentuk ujian tersebut:
- Orang tua bisa menjadi bodoh/lalai dalam menuntut ilmu karena terlalu sibuk mengejar kebutuhan anak dan harta.
- Anak terkadang menjadi sebab kesedihan.
- Anak dapat membuat orang tua menjadi pelit atau kikir.
- Anak juga dapat membuat seseorang menjadi pengecut (karena terlalu banyak pertimbangan dunia sehingga tidak berani mengambil keputusan yang benar).
Karena itu, orang tua harus mampu menempatkan kecintaan kepada anak di bawah kecintaan kepada Allah.
Anak adalah Amanah dan Tanggung Jawab
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ٦
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim: 6]
Menjaga keluarga dari api neraka dilakukan dengan:
- mengajarkan ilmu agama,
- mengajarkan adab,
- membimbing mereka menuju ketaatan.
Nabi Muhammad ﷺ juga diperintahkan untuk menyampaikan dakwah terlebih dahulu kepada keluarga dan kerabat dekatnya.
Meskipun beliau adalah Rasulullah, beliau tidak mampu menjamin keselamatan seseorang dari neraka tanpa izin Allah.
Kewajiban Anak untuk Berbakti kepada Orang Tua
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا ٣٦
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” [QS. An-Nisa: 36]
Allah menyebutkan bahwa setelah hak Allah ditunaikan, hak terbesar berikutnya adalah berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain).
Peran Orang Tua
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” [Muttafaqun Alaih, HR. Al-Bukhari No. 7138 dan Muslim No. 1829a]
Peran Ayah
Ayah adalah pemimpin keluarga. Dan setiap ayah akan dimintai pertanggungjawaban terhadap seluruh anggota keluarganya.
Tanggung jawab utamanya:
- mengatur arah rumah tangga,
- memimpin keluarga menuju ketaatan,
- bertanggung jawab atas baik dan buruknya keadaan keluarga.
Peran Ibu
Ibu berperan sebagai pendidik utama di dalam rumah yang mendampingi anak-anak setiap hari
Pada hari kiamat, Allah akan terlebih dahulu meminta pertanggungjawaban kepada orang tua sebelum anak-anaknya. Terlebih kepada ayah (orang tua laki).
Di antara pertanyaan yang akan diajukan adalah:
- “Apa yang telah engkau ajarkan kepada anakmu?”
- “Bagaimana engkau mendidiknya?”
Hidayah Berada di Tangan Allah
Orang tua harus memahami bahwa hidayah (taufik) mutlak di tangan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ٥٦
“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. Al-Qashash: 56]
Karena itu tugas orang tua adalah:
- berusaha,
- mendidik,
- memberi teladan,
- terus berdo’a.
Dalam melakukan semua tugas di atas, jangan pernah bertawakal kepada kemampuan diri sendiri.
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” [HR. Abu Dawud No. 5090 dan Ahmad No. 20430. Dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani]
Iringi ikhtiar tersebut dengan terus memohon agar Allah menjadikan anak-anak sebagai anak yang shalih dan shalihah.
Semoga apa yang singka ini bermanfaat dan menjadi penerang jalan kita dalam mendidik anak yang Allah amanahkan sesuai dengan tuntunan syari’at.
Simak pula artikel tentang “Urutan dalam Mendidik Anak”.
Barakallahu fiikum.
Penulis resume:Annisa Phalupi
Murojaah & Editor: Tim Dakwah YIMB
