Tahapan dalam Mendidik Anak

Catatan Kajian Parenting
Ustadz Dadan Hidayatullah Hafidzahullah
Sabtu, 12 September 2026
Masjid Ash-Shiddiq, Kebon Gedang.

Tarbiyatul Aulad (Bagian 2)
“Tahapan dalam Mendidik Anak”

Dalam ikhtiar untuk mendidik anak menjadi shalih dan shalihah, tentunya ada tahapan yang perlu dijalani oleh orang tua. Di antara tahapan tersebut antara lain:

Memilih Pasangan yang Shalih dan Shalihah

Pendidikan anak dimulai bahkan sebelum anak lahir, yaitu dengan memilih pasangan hidup yang baik agamanya. Anak umumnya akan mewarisi banyak sifat, tabiat, dan karakter dari kedua orang tuanya. Karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Memiliki Visi yang Sama, yaitu Akhirat

Ayah dan ibu harus memiliki visi yang sama dalam mendidik anak. Visi tersebut adalah akhirat, bukan sekadar keberhasilan dunia. Karena hal inilah yang membedakan kita dengan orang kafir dan membuat kita lebih mulia dari orang kafir.

Setiap anak lahir di atas fitrah

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang tualah yang kemudian membentuk arah kehidupan anak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [HR. Al-Bukhari no. 1385]

Dalam mendidik anak, orang tua harus ikhlas karena Allah

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa di antara infaq yang paling besar pahalanya adalah nafkah yang diberikan orang tua kepada anaknya.

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu. Yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” [HR. Muslim no. 995 — Shahih]

Jangan mendoakan keburukan untuk anak

Rasulullah ﷺ melarang orang tua mendoakan keburukan kepada: anak-anak, harta, maupun diri sendiri.
Karena doa orang tua adalah doa yang mustajab.

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak ada keraguan padanya: doa orang yang terzalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya.” [HR. Ibnu Majah no. 3862, derajat hasan]

Orang tua adalah teladan

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [QS. Ath-Thur: 21]

Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah dapat mengangkat derajat anak karena keshalihan orang tuanya.

Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Beliau berkata kepada anaknya:

لَأَزِيدَنَّ فِي صَلَاتِي مِنْ أَجْلِكَ، رَجَاءَ أَنْ أُحْفَظَ فِيكَ

“Sungguh, aku akan memperbanyak shalatku karenamu, dengan harapan Allah menjagamu.” [Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, 1/467, dalam penjelasan hadits ke-19]

Keshalihan orang tua menjadi sebab turunnya keberkahan kepada anak.

Anak yang shalih menjadi sebab naiknya derajat orang tua

Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga karena istighfar yang dipanjatkan oleh anaknya.
Ini menunjukkan pentingnya mendidik anak agar menjadi anak yang shalih dan terus mendoakan kedua orang tuanya.

Dalilnya adalah hadits shahih/hasan yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga. Lalu ia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, dari manakah aku mendapatkan kedudukan ini?’ Maka Allah berfirman, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’” [HR. Ahmad no. 10610]

Menjauhkan keluarga dari kemungkaran

Orang tua wajib mengingatkan ketika melihat anak melakukan kesalahan. Jangan membiarkan kemungkaran, jangan membiarkan anak terjerumus dalam kesalahan, meskipun anak itu masih kecil. Nasihat dan pengarahan harus diberikan sejak dini.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan cucunya saat hendak memakan sebutir kurma sedekah, padahal saat itu cucunya masih kecil.

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ، فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كِخٍ كِخٍ» لِيَطْرَحَهَا، ثُمَّ قَالَ: «أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ»

“Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kikh, kikh!’ agar ia mengeluarkannya.

Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya kita tidak memakan sedekah?’” (HR. Al-Bukhari no. 1491 dan Muslim no. 1069 — Muttafaqun ‘alaih)

Memperhatikan lingkungan pergaulan anak

Teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter anak. Rasulullah ﷺ mengibaratkan teman yang shalih seperti penjual minyak wangi, meskipun tidak membeli, seseorang tetap akan mendapatkan harum wanginya.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma harum darinya.

Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” [HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628 — Muttafaqun ‘alaih]

Karena itu, orang tua harus mengenal dan memperhatikan teman-teman anak.

Sering berbincang/sharing dan membangun kedekatan dengan anak

  • Luangkan waktu untuk berdialog dan mendengarkan cerita anak.
  • Tampakkan kasih sayang, terutama kepada anak laki-laki.

Apabila seorang anak laki-laki merasa kehilangan perhatian dan kedekatan dengan ayahnya, ia bisa mencari figur pengganti di luar rumah. Karena itu, pastikan anak merasa nyaman, dicintai, dan dekat dengan ayahnya.

Semoga bermanfaat,
Baarakallahu fiikum.

Penulis resume: Annisa Phalupi
Murojaah & Editor: Tim Dakwah YIMB

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *